BAB I
PENDAHULUAN
I.I LATAR
BELAKANG MASALAH
Dalam upaya meningkatkan status
kesehatan Masyarakat, pemerintah telah melakukan banyak program dengan
melibatkan lembaga yang ada dalam masyarakat menggingat Angka Kematian IBU dan
Bayi masih cukup tinggi bila dibandingkan dengan Negara ASEAN lainnya
Kematian ibu juga masih banyak di akibatkan
faktor resiko tidak langsung berupa keterlambatan (Tiga terlambat), yaitu
terlambat mengambil keputusan/terlambat mengenali tanda bahaya, terlambat
dirujuk serta terlambat mendapat penanganan medis,dan satu hal yang tak dapat
dipungkiri adalah tingginya persalinan oleh dukun bayi oleh karena banyak
faktor, salah satu upaya pencegahannya yaitu dengan melakukan kemitraan bidan-dukun
bayi, sehingga persalinan diharapkan dapat berjalan dengan baik, ibu dan bayi selamat.
Dalam upaya penurunan AKI/AKB
tersebut Depkes RI,2002 melaksanakan program penempatan bidan didesa yang
bertujuan untuk mengatasi berbagai kesenjangan yaitu dalam memperoleh
pertolongan persalinan yang aman dan bersih,informasi mengenai kesehatan ibu
dan anak,perilaku hidup bersih dan sehat,sosial budaya antara petugas kesehatan
dengan masyarakat yang dilayani,kesenjangan ekonomi dalam mendapatkan pelayanan
kebidanan profesional dan dalam pelayanan Rujukan.
Persepsi merupakan proses kerja sama
melalui perantaraan pikiran sehat yang muncul pada seseorang, mencakup dua
persepsi kerja yang saling berkaitan yaitu menerima kesan melalui penglihatan
penafsiraan dan penetapan arti atas kesan-kesan indrawi yang melahirkan
pandangan-pandangan seseorang terhadap sesuatu objek.
Berbagai persepsi masyarakat terhadap
pertolongan persalinan oleh bidan dan dukun bayi selama ini menjadi makna bagi
masyarakat, banyak persepsi yang kurang positif terhadap kehadiran bidan
menjadi persepsi semu dimasyarakat sehingga peran bidan dikalangan masyarakat
yang masih sangat tradisional dan memegang budaya masih belum dapat diterima
dengan baik.
Seperti kita ketahui bersama banyak
faktor yang mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap pertolongan persalinan
oleh tenaga Bidan, dan lebih memilih persalinan oleh dukun bayi hal ini
dipengaruhi oleh tingkat pendidikan ibu yang masih rendah, faktor sosial-budaya
yang masih kental,ekonomi keluarga dan banyak faktor lainnya.
Oleh karena itu pemerintah berupaya
dalam mewujudkan Visi kesehatan menuju MDgS, salah satunya dikembangkan program
kemitraan Bidan dan Dukun bayi guna menurunkan Angka kematian Ibu dan bayi yang
masih tinggi.
I.2. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah disajikan
diatas,maka masalah pokok yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah :
a. Bagaimana perkembangan
persalinan saat ini setelah dilakukan kemitraan bidan-dukun bayi di desa yang
ada diwilayah kerja puskesmas Malinau selatan ?
b. Bagaimana Persepsi Dukun
Terhadap program kemitraan Bidan-Dukun ?
c. Sejauh mana faktor budaya
masyarakat mempengaruhi kemitraan Bidan-dukun ?
d. Bagaimana persepsi Masyarakat
terhadap kemitraan Bidan-Dukun bayi ?
I.3 TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini bertujuan memahami masalah persepsi dukun bayi
terhadap program kemitraan bidan-dukun, dengan mengarahkan kajiannya secara
teliti pada :
a. Perkembangan pertolongan
Persalinan saat ini setelah dilakukan kemitraan bidan-dukun bayi.
b. Persepsi dukun bayi terhadap
kemitraan,dampak terhadap peningkatan cakupan persalinan yang aman dan bersih
serta penurunan AKI/AKB.
c. Keterkaitan faktor budaya
mempengaruhi perilaku masyarakat dalam memilih penolong persalinan.
d. Persepsi warga masyarakat
terhadap program kemitraan,yang terdiri dari tokoh masyarakat,ibu hamil,suami
dan keluarga.
I.4 MANFAAT PENELITIAN
Hasil penelitian yang berupa pengertian mendalam tentang
persepsi dukun bayi terhadap kemitraan Bidan-dukun dan persepsi masyarakat
serta peran serta aktif masyarakat dalam mendukung program kemitraan dalam
lintas sosial budaya masyarakat yang masih tradisional dan status ekonomi yang
rendah,diharapkan akan sangat berguna bagi penentu kebijakan dan pelaksana
program KIA,terutama bisa digunakan untuk :
a. Memecahkan masalah yang
terjadi dalam hal kemitraan Bidan-Dukun dan peningkatan cakupan persalinan di
wilayah kerja
b. Memberi masukan penting bagi
perencanaan program KIA dalam mengatasi permasalahan KIA yang dihadapi
dilapangan terutama yang berhubungan dengan budaya masyarakat tradisional yang
berpengaruh terhadap status kesehatan ibu hamil,ibu bersalin dan bayi
c. Memberikan masukan penting
bagi penentu kebijakan sebagai bahan evaluasi dalam perencanaan kedepan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 KAJIAN
TEORI
Penempatan bidan akan meningkatkan
akses terhadap pemanfaatan pelayanan kesehatan ibu dan anak di desa secara
optimal (Koblinsky,1997), penempatan bidan di Desa yang dilakukan sejak tahun
1997 ternyata belum maksimal yang tercermin dari tingginya persalinan yang
ditolong oleh dukun tradisional,sedangkan mengacu pada Standar pelayanan
Minimal(SPM) Depkes RI bahwa 85% persalinan harus ditolong oleh tenaga
kesehatan yang kompeten dibidangnya, dimana masyarakat masih banyak yang
mempercayai persalinannya kepada dukun bayi dibandingkan dengan bidan karena
pelayanan dukun lebih komprehensif, lebih murah dan mudah dipanggil ke rumah (Depkes
RI, 2005)
Dari gambaran tersebut tampak
kesenjangan yang merupakan permasalahan yaitu disatu pihak pemerintah
menyediakan fasilitas kesehatan yang memaadai dan tenaga trampil tetapi dipihak
lain jumlah persalinan yang ditolong oleh dukun bayi masih tinggi.
Untuk itu salah satu upaya yang
dilakukan oleh pemerintah yaitu menjalin kemitraan bidan-dukun bayi sebagai
upaya meningkatakan cakupan pertolongan persalinan yang aman(Depkes RI,2002)
Keberadaan Dukun bayi ditengah
masyarakat memang masih dibutuhkan oleh masyarakat melihat hingga kini
persalinan oleh dukun bayi masih ada, dan masyarakat masih mempercayai dukun
bayi dalam menolong proses persalinan.hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor
seperti pendidikan ibu yang masih rendah, jarak ke tempat pelayanan kesehatan,
status sosial ekonomi serta kebudayaan
masyarakat yang telah diyakini secara turun-temurun (Rahmat Hargono,1995)
Karena kebudayaan diartikan sebagai
segala sesuatu yang berhubungan erat dengan perilaku manusia dan
kepercayaan(Goetz & LeCompte, 1984) maka ini berhubungan dengan berbagai
hal dalam kehidupan manusia, yang diantaranya Agama, struktur sosial ekonomi, pola
kekeluargaan, kebiasaan mendidik anak, cara memelihara kesehatan dan
sebagainnya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kondisi sosial seseorang
sangat mempengaruhi persepsi pada setiap peristiwa sosial, dimana dalam setiap
kegiatan sosial tersebut selalu melibatkan hubungan antar subjek dan
terbentuknya makna (Van Maanen, Dabbs & Faulkner,1982) Dimana makna
tersebut akan menentukan kesanggupan seseorang untuk terlibat dalam
berpartisipasi pada kegiatan tertentu dalam masyarakat.
II.2 KERANGKA
PIKIR
Agar penelitian ini bisa berjalan dengan lancar dan
mengarahkan analisisnya pada tujuan, disini perlu dikembangkan kerangka pikir
yang akan digunakan dalam penelitian ini. Namun kerangka pikir ini tetap
bersifat lentur dan terbuka, ketetapan penggunaannya akan ditentukan dan
disesuaikan dengan apa yang terjadi dan ditemukan dilapangan.
Secara singkat kerangka pikir bagi penelitian ini dapat
digambarkan dengan skema sebagai berikut :
Program Kemitraan Bidan-Dukun
Bidan Tujuan
Dukun Persepsi kemitraan
(positif/negatif)
(dukungan/hambatan)
Masyarakat
Latar belakang sosial ekonomi
Dan budaya tradisional
Sebegai penjelasan Kerangka pikir tersebut, bahwa dalam hal
membina kemitraan antar Bidan dan Dukun bayi, perbedaan latar belakang sosial
ekonomi dan budaya yang terdapat pada masyarakat akan terjadinya perbedaan
makna hasil persepsi terhadap program
kemitraan tersebut. dimana semakin positif makna persepsi oleh dukun dan
masyarakat maka semakin tinggi tingkat keberhasilan kemitraan tersebut, demikian
pula sebaliknya, bila persepsi dukun dan masyarakat kurang bermakna positif
(negatif) maka dukun bayi dan masyarakat juga tidak akan mau melakukan program
kemitraan tersebut. kondisi persepsi Dukun bayi dan partisipasi masyarakat ini
secara jelas membawa dampak terhadap program kemitraan Bidan Dukun dalam mencapai
tujuan yaitu penurunan AKI/AKB, melalui persalinan yang aman, bersih dan
selamat.
II.3 METODOLOGI
Berbagai hal yang berkaitan dengan metodologi penelitian yang
akan digunakan dalam penelitian ini dapat dijelaskan secara singkat sebagai
berikut :
A.
LOKASI PENELITIAN
Penelitian ini di rencanakan di lakukan di Desa yang memiliki
Bidan Desa di Wilayah Kerja Puskesmas malinau Selatan, dengan memperhatikan
perbedaan kultur dan budaya masyarakat serta letak geografis yang berbeda,
disini diambil 4 desa Yang memiliki Bidan Desa yang terdiri dari
1. Desa Tanjung Nanga, yang
merupakan Desa yang cukup subur dengan penduduk mayoritas bekerja sebagai
Petani tradisional dengan etnis Dayak Pua, status ekonomi sedang kebawah dengan
budaya yang cukup kental.
2. Desa Long Titi, yang
merupakan Desa yang cukup jauh dari Ibu Kota kecamatan,dengan geografis yang
cukup sulit dijangkau hanya melalui sungai dengan longboat jarak tempuh sekitar
8 jam dari desa Tetangga, di mana penduduk mata pencahariannya Gaharu dan
Berkebun dan dihuni oleh Etnis Punan dengan status pendidikan yang sangat
rendah.
3. Desa Setulang, Desa ini
merupakan Desa sebantaran sungai Malinau dimana penduduk dengan etnis dayak
merab yang memiliki kultur khas dan bekerja sebagai petani dan berkebun ,status
sosial Ekonomi menengah kebawah.
4. Desa Long Loreh, Desa ini
merupakan Desa yang berada di ibu kota Keamatan malinau Selatan dengan beragam
etnis dan keyakinan, dimana tingkat pendidikan masyarakat rata-rata SLTA ke
atas, dimana daerah ini merupakan daerah pertambangan sehingga kemajuan
teknologi dan informasi lebih baik bila dibandingkan dengan Daerah lainnya di
Kecamatan Malinau Selatan.
B.
BENTUK DAN STRATEGI PENELITIAN
Berdasarkan Masalah yang diajukan dalam penelitian ini, yang
lebih menekankan pada masalah proses dan makna (persepsi), maka jenis
penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Jenis penelitian ini akan mampu
menangkap berbagai informasi kualitatif dengan deskripsi teliti dan penuh
nuansa, yang lebih berharga daripada sekedar pernyataan jumlah atau pun frekuensi
dalam bentuk angka.
strategi yang digunakan adalah studi kasus, dan karena lokasi
studi ini di empat desa dengan kekhususan nya masing-masing dan selanjutnya
akan disatukan menjadi simpulan studi
secara lengkap, selain itu karena permasalahan dan fokus penelitian
telah ditentukan dalam proposal sebelum peneliti terjun dan menggali
permasalahan di lapangan, maka jenis strategi penelitian kasus ini secara lebih
khusus bila disebut sebagai studi kasus terpancang(embedded case study research).
C.
SUMBER DATA
Data atau informasi yang dikumpulkan pada penelitian ini sebagian besar berupa data kualitatif. Data
kuantitas juga dipakai sebagai data pendukung simpulan penelitian. Informasi
tersebut akan digali dari beragam sumber
data, dan jenis sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut :
1. Informan atau Narasumber,
yang terdiri dari Dukun Bayi, Bidan Desa, Pimpinan Puskesmas, Tokoh-tokoh
masyarakat, suami ibu hamil dan keluarga yang ada di Empat Desa yang diteliti.
2. Tempat dan peristiwa/aktivitas
yang terdiri dari pustu,polindes, rumah warga dimana persalinan masih dilakukan
dirumah jika sarana polindes tidak ada.
3. Arsip dan dokumen resmi bidan
desa dan pengelola KIA serta laporan tertulis Dukun bayi, di Puskesmas Malinau
Selatan.
D.
TEKNIK PENGUMPULAN DATA
1. Wawancara Mendalam
Wawancara ini bersifat lentur dan terbuka, tidak tertekstur
ketat, tidak dalam susunan formal, dan bisa dilakukan berulang-ulang pada
informan yang sama(patton, 1980). Pertanyaan yang diajukan bisa semakin
terfokus sehingga informasi yang didapat dan dikumpul kan lebih rinci dan
lengkap serta mendalam, karena diharapkan memperoleh data yang valid dan
lengkap. Diharapkan kelenturan ini dapat mengorek kejujuran dan keterbukaan
dari informan dalam memberikan informasi yang dibutuhkan, terutama yang
berkaitan dengan perasaan, sikap, dan pandangan mereka terutama terhadap Bidan
dan Kemitraan antara Dukun dan Bidan Desa. Teknik wawancara ini akan dilakukan
pada semua informan.
2. Observasi Langsung
Dalam observasi ini peneliti hanya sebagai pengamat yang
hadir dilokasi. Dalam penelitian kualitatif teknik ini sering disebut sebagai
observasi berperan pasif (spradley, 1980). Observasi langsung ini akan
dilakukan dengan cara formal dan informal, untuk mengamati berbagai kegiatan
dan peristiwa yang terjadi di Desa dalam Kemitraan Bidan-Dukun serta aktivitas
keluarga ibu hamil, ibu bersalin serta suami.
3. Mencatat Dokumen (content
Analysis)
Teknik ini akan dilaksanakan untuk mengumpulkan data yang
bersumber dari dokumen dan arsip yang terdapat di Puskesmas, Bidan Desa dan
Dukun Bayi.
E.
TEKNIK CUPLIKAN(sampling)
Dalam Penelitian kualitatif, teknik cuplikan yang digunakan
bukanlah cuplikan statistik atau yang biasa dikenal dengan istilah probability
sampling yang biasa digunakan dalam penelitian kuantitatif. Penelitian
kualitatif cenderung menggunakan teknik cuplikan yang bersifat selektif dengan
menggunakan pertimbangan berdasarkan konsep teoritis yang digunakan,
keingintahuan pribadi peneliti, karakteristik empirisnya dan lain sebagainya. Oleh
karena itu cuplikan yang akan digunakan dalam penelitian ini lebih bersifat purposive
sampling, atau lebih disebut sebagai cuplikan dengan criterion-based selection
(Goetz & LeComptr, 1984)
Karena dipandang lebih mampu menagkap kelengkapan dan
kedalaman data didalam menghadapi realitas yang tidak tunggal. Pilihan sampel
diarahkan pada sumber data yang dipandang memiliki data yang penting yang
berkaitan dengan permasalahan yang sedang diteliti.untuk itu diperlukan
pemahaman peneliti mengenai peta sumber tang tersedia, dalam berbagai
posisinya, karena setiap posisi akan memiliki akses informasi yang berbeda. cuplikan
ini enderung sebagai internal sampling(bogdan & biklen, 1982)
F.
VALIDITAS DATA
Untuk mengembangkan Validitas data yang diperoleh, dengan
menggunakan beragam teknik dan harus benar-benar sesuai dan tepat agar dapat
menggali data yang yang diperlukan bagi
kemantapan hasil penelitiannya.
Dalam penelitian kualitatif dapat menggunakan teknik
trianggulasi, trianggulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah
trianggulasi sumber atau data yaitu dengan memperoleh data dari hasil
wawancara, dokumen dan aktivitas/perilaku.
G.
TEKNIK ANALISIS
Proses analisis akan dilakukan dengan menggunakan model
analisis Interaktif (miles & Huberman,1984) dalam model analisis ini, ada
tiga komponen analisisnya yaitu Reduksi data, Sajian data dan Penarikan
Kesimpulan atau Verivikasi, aktifitasnya dilakukan dalam bentuk interaktif
dengan proses pengumpulan data sebagai suatu proses siklus, Aktivitas dalam
bentuk interaktif tersebut dilakukan baik pada analisis setiap unit kasusnya
maupun pada analisis antarkasusnya, untuk memahami kesamaan dan juga
perbedaannya dalam melaksanakan proses penelitian.
Untuk lebih jelas proses analisis interaktif terlihat pada
skema dibawah ini :
BAB III
PROSEDUR KEGIATAN
I.
LANGKAH KEGIATAN
a. PERSIAPAN
1. Mengurus perijinan
Penelitian, Di kabupaten Malinau, Kecamatan Malinau Selatan, Dinkes Kabupaten Malinau,
Puskesmas Malinau Selatan, dan Desa.
2. Menentukan lokasi penelitian
; berkonsultasi dengan DKK dan Pemerintahan setempat (kecamatan dan Desa)
3. Meninjau Desa-desa terpilih
sebagai lokasi penelitian
4. Menyusun Alur penelitian,
pengembangan pedoman pengumpulan data(daftar pertanyaan dan petunjuk observasi)
.
5. Menyusun Jadwal Kegiatan
secara Rinci
b. PENGUMPULAN DATA
1. Pengumpulan data dilakukan
dengan observasi,wawancara medalam dan mencatat dokumen/arsip
2. Melakukan reviu, pembahasan
data yang telah terkumpul dengan melaksanakan refleksinya.
3. Menentukan strategi
pengumpulan data yang paling tepat, melakukan pendalaman dan menentukan focus
data pada proses pengumpulan data berikutnya
4. Mengelompokkan data untuk
kepentingan Analisis, dengan memperhatikan semua variabel yang terlibat.
c. ANALISIS DATA
1. Melakukan Analisis awal
2. Mengembangkan bentuk sajian
data,untuk kepentingan lebih lanjut
3. Melakukan analisis unit
desa(perkasus)
4. Melakukan verifikasi, pengayaan
dan pendalaman data, bila dalam analisis data ditemukan data yang kurang
lengkap atau mendalam.
5. Melakukan analisis antar
kasus, lalu disatukan dan menarik kesimpulan
6. Merumuskan implikasi
kebijakan sebagai bahan dari pengembangan saran dalam laporan akhir penelitian.
d. PENYUSUNAN LAPORAN PENELITIAN
1. Penyusunan laporan awal
2. Reviu laporan: mendiskusikan
dengan dosen pembimbing
3. Perbaikan laporan
4. Memperbanyak laporan sesuai
kebutuhan
II.
PERKIRAAN WAKTU YANG DIPERLUKAN
a. Persiapan : 1 Bulan (7 Nov – 7
Des 2011)
b. Pengumpulan data : 3 bulan ( 8 Des – 8 Mar 2011)
c. Analisis : 1 bulan (9 Mar –
9 April 2011)
d. Penyusunan Laporan : 1 bulan
( 10 April – 10 Mei 2011)
JADWAL KEGIATAN
NO
|
KEGIATAN
|
TANGGAL/BULAN
/TAHUN
|
KETERANGAN
|
|||
7
Nov-7 Des 2011
|
8
des-8 mar 2011
|
9
mar-9 april 2011
|
10
April-10 Mei 2011
|
|||
1
|
PERSIAPAN
|
PENELITIAN INI BISA DILAKSANAKAN SELAMA 6 BULAN
|
||||
2
|
PENGUMPULAN DATA
|
|||||
3
|
ANALISIS DATA
|
|||||
4
|
PENYUSUNAN LAPORAN
|
|||||
BAB III
P E N U T U P
Di Indonesia istilah kemitraan masih
relative baru, namun dalam prakteknya istilah ini sudah lama dikenal oleh
masyarakat dengan istilah gotong royong yang sebenarnya esensinya adalah
kemitraan, yakni kerjasama dari berbagai pihak, baik secara individual maupun
kelompok. Selanjutnya gotong royong sebagai “praktek individual” ini berkembang
menjadi koperasi, koalisi, aliansi, jejaring (net working), dan sebagainya.
Istilah- istilah
ini sebenarnya sebagai perwujudan dari kerjasama antar individu atau kelompok
yang saling membantu, saling menguntungkan dan secara bersama-sama meringankan
pencapaian suatu tujuan yang telah mereka sepekati bersama. Pengertian
kemitraan menurut Robert Davies, adalah suatu kerjasama formal antara
individu-individu, kelompok-kelompok atau organisasi untuk mencapai suatu
tujuan tertentu. Dalam kerjasama tersebut ada kesepakatan tentang komitmen dan
harapan masing- masing tentang peninjauan kembali terhadap
kesepakatan-kesepakatan yang telah dibuat, dan saling berbagi, baik dalam
resiko maupun keuntungan yang diperoleh. (Notoatmodjo,2003:105).
Dari batasan ini
ada tiga kata kunci dalam kemitraan yakni: a) kerjasama antara kelompok,
organisasi, dan individu 2) bersama- sama mencapai tujuan tertentu (sesuai
kesepakatan) 3) saling menanggung resiko dan keuntungan. Membangun sebuah
kemitraan, harus didasarkan pada hal-hal berikut: 1) kesamaan perhatian (common
interest) atau kepentingan 2) saling mempercayai dan saling menghormati, 3)
tujuan yang jelas dan terukur 4) kesediaan untuk berkorban baik waktu, tenaga,
maupun sumber daya lain.
Konsep kemitraan
yang diuraikan di atas, senantiasa diperhadapkan berbagai tantangan atau
hambatan dalam hal ini pelaku medis tradisional yaitu dukun bayi, salah satu
penolong persalinan dan warga masyarakat yang banyak berperan dalam pertolongan
persalinan (Kalangie, 1987, Foster 1969).
Oleh karena itu
diharapkan dengan adanya program kemitraan antara Bidan-Dukun bayi upaya
pemerintah dalam rangka menurunkan Angka kematian Ibu dan Bayi dapat diturunkan,
dengan adanya pendampingan persalinan dapat berjalan dengan aman dan selamat.
Kiranya dengan
adanya penelitian ini dapat bermanfaat bagi kita semua,terutama pemegang
program Kesehatan Ibu dan Anak di Puskesmas,Dinas Kesehatan dan bagi pihak yang
merasa berkepentingan,sehingga dapat menjadi bahan masukan bagi perencanaan
kedepan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar